Posts

Showing posts from 2010

Tasbih di Malam Itu…

Image
Membeku di sudut sunyi kecil hatimuBerharap cahaya terang datang menyapaMembelai raut angin yang kian resahBerarak sebarkan kekalutan di penjuru asaMatamu adalah bias senjaBercahaya tanpa menyilaukanBerwarna namun senadaTak pernah lekang kupandangi indahnyaTawamu adalah debur-debur riang ombakYang sebentar datang silih bergantiMenyapa dermaga hatiku yang kian membisuRiak-riak kecil bermain di sela kakikuTanganmu adalah selendang bidadariYang mampu buat batu menjadi cairNamun tetap lembut ketika memlukkuMendekapku di haribaan pelukan yang damaiTapi engkau semakin membisuTulang punggungmu terhampar pasrah di sudut waktuHanya jemarimu yang sibuk memutar tasbihDan bisik dzikir yang mengisi urat nadimuWahai ibu,Meski dzikirku tak seindah tasbih alam semestaKan selalalu kutemani engkau mengeja malamDengan sisa-sia cahaya dari bekas air wudhu’muDuhai ibu,Detak jantungku adalah detak jantungmuMeski degupmu kian lirihMeluruh seiring denyut malam yang kian pelanSemua terjawab sudahKetika tasbih…

Acacia...

Aku sampai ketika waktu menghamparkan sebuah pemandangan di depanku
Pemandangan yang asing, seasing ketika aku pertama kali membuka mata
Aku melihat orang –orang menatap heran ke arahku
Ada yang melempar senyum, menghadirkan salam, menyambut tanganku
Mereka bicara, tapi hanya sepi yang kudengar
Bibir mereka mengucap dengan bahasa seorang pemain pantomim

Orang yang mengaku ibuku mengatakan,
“Seseorang telah menitipkan salam padamu”
Aku mencoba mengingatnya, kutelusuri jejak
Menerobos pagar Acacia yang berderet-deret sepanjang jalan kampungku
Melewati batangan-batangan pipa gas bumi dan lalu lalang kendaraan proyek
“Seseorang bermata jernih dan berparas seperti ibu ketika mengandungmu” katanya lagi

Tak kuhiraukan salam dari seseorang itu, benakku tak mampu memunculkan wajah itu di mataku
Aku lalu melihat seperti seorang teman yang t’lah lama tak bertemu
Dia mengajakku menaiki sepeda motor, singgah sejenak di rumahnya
Lalu dia menemani aku duduk di bawah Acacia sambil bercerita tentang sebuah kemaraha…

Tuhan, Aku Hamba-Mu

Tasbih menghias lidah
Kening menyapu sujud
Kesombonganku tundukkan

Tangan kuulurkan
Kaki kulangkahkan
Kikir kukikis habis

Senyum tersungging indah
Kata terdengar merdu
Keramahanku tunjukkan

Segalanya untuk-Mu
Meski harus kepala ini tunduk pada dunia
Namun hati pasrah pada-Mu

Jika tak cukup semua ini
Aku rela kembali pada-Mu

Meriam Bambu

Hari ketiga belas Ramadhan, pukul satu siang.

Dummm...

Sebuah ledakan mengagetkanku yang sedang istirahat. Kulongok dari jendela, terlihat beberapa bocah sedang main meriam bambu.

“Oooh...” Kataku biasa saja, lalu kulanjutkan berbaring di balai-balai .

Dummm...

Ledakan berikutnya menyusul, aku jadi terbiasa. Tapi, tak lama kemudian ada seorang bayi menangis, kupikir ada anak bayi yang kena meriam.

Olala, ternyata itu adalah anak Yuk Sinta, tetangga sebelah. Rupanya bunyi meriam itu membangunkan tangis anaknya.

Dummm...

Sekali lagi meriam berdentum.

“Deeek, tolong jangan main di situ ya. Si Hanin mau tidur siang.” Kata Yuk Sinta sayup-sayup dari beranda rumahnya.

Si bocah tetap cengengesan, hingga membuat Yuk Sinta masuk kembali ke dalam rumahnya. Entah apa lagi yang bisa membuat kuping bocah-bocah itu terbuka lubangnya.

Iseng aku kembali melongok ke luar jendela karena mencium bau bensin. Aku pikir abangku sedang mengisi bensin motornya, tapi tak ada siapa-siapa selain ketiga bocah badung itu.

A Cup of Mocca Float

Image
Seorang bocah memandang penuh tanya dari balik kaca
aku mencoba menerka bahasa wajahnya...

Nggak usah terlalu kecewa, Dik
Kalau cuma nggak bisa masuk ke tempat ini
Di sini memang nyaman, ber-AC
Tapi orang-orangnya sungguh tak nyaman, egois semuanya
Termasuk saya

Nggak usah terlalu sedih, Dik
Kalau kamu cuma bisa makan nasi pakai ikan asin dan pucuk ubi
Di sini semua tampak sedap dipandang
Tapi sunguh tak enak dimakan, pahit
Termasuk yang bikin

Nggak usah terlalu berharap, Dik
Apa yang kamu harapkan?
Segelas coke?
Sebongkah chick’n fillet?
Se-cup mocca float?
Atau sepiring kentang goreng?

Nggak usah terlalu berharap, Dik
Karena yang kamu punya sudah lebih dari cukup
Kecuali orang yang duduk di depan saya ini bersedia membungkuskannya untukmu


|KFC Basko Plaza, 23 Juli 2010|



*thanks Ela untuk traktirannya