Meriam Bambu

Hari ketiga belas Ramadhan, pukul satu siang.

Dummm...

Sebuah ledakan mengagetkanku yang sedang istirahat. Kulongok dari jendela, terlihat beberapa bocah sedang main meriam bambu.

“Oooh...” Kataku biasa saja, lalu kulanjutkan berbaring di balai-balai .

Dummm...

Ledakan berikutnya menyusul, aku jadi terbiasa. Tapi, tak lama kemudian ada seorang bayi menangis, kupikir ada anak bayi yang kena meriam.

Olala, ternyata itu adalah anak Yuk Sinta, tetangga sebelah. Rupanya bunyi meriam itu membangunkan tangis anaknya.

Dummm...

Sekali lagi meriam berdentum.

“Deeek, tolong jangan main di situ ya. Si Hanin mau tidur siang.” Kata Yuk Sinta sayup-sayup dari beranda rumahnya.

Si bocah tetap cengengesan, hingga membuat Yuk Sinta masuk kembali ke dalam rumahnya. Entah apa lagi yang bisa membuat kuping bocah-bocah itu terbuka lubangnya.

Iseng aku kembali melongok ke luar jendela karena mencium bau bensin. Aku pikir abangku sedang mengisi bensin motornya, tapi tak ada siapa-siapa selain ketiga bocah badung itu.

“Jangan-jangan...”

Belum selesai aku menggumam, sebuah ledakan kembali terjadi dan lebih dahsyat.

“Aaa...” jerit seorang bocah.

Dari arah tempat bermain bocah-bocah tadi, kulihat meriam bambu telah terbelah, dua bocah menggigil takut, seorang lagi tak sadarkan diri, mukanya gosong, dan sebagian rambutnya hangus.

“Riaaan...”

Ibuku setengah berlari menyongsong bocah yang pingsan itu.


(Diikutkan dalam Lomba Cerita 200 Kata Aku Kamu & Ramadhan, Untuk Sahabat Groups & Tiga Tujuh Blogs)

Comments

Popular posts from this blog

Tangan

Dedikasi

Suatu Ketika, Saat Puisi Saya Diapresiasi...