Acacia...

Aku sampai ketika waktu menghamparkan sebuah pemandangan di depanku
Pemandangan yang asing, seasing ketika aku pertama kali membuka mata
Aku melihat orang –orang menatap heran ke arahku
Ada yang melempar senyum, menghadirkan salam, menyambut tanganku
Mereka bicara, tapi hanya sepi yang kudengar
Bibir mereka mengucap dengan bahasa seorang pemain pantomim

Orang yang mengaku ibuku mengatakan,
“Seseorang telah menitipkan salam padamu”
Aku mencoba mengingatnya, kutelusuri jejak
Menerobos pagar Acacia yang berderet-deret sepanjang jalan kampungku
Melewati batangan-batangan pipa gas bumi dan lalu lalang kendaraan proyek
“Seseorang bermata jernih dan berparas seperti ibu ketika mengandungmu” katanya lagi

Tak kuhiraukan salam dari seseorang itu, benakku tak mampu memunculkan wajah itu di mataku
Aku lalu melihat seperti seorang teman yang t’lah lama tak bertemu
Dia mengajakku menaiki sepeda motor, singgah sejenak di rumahnya
Lalu dia menemani aku duduk di bawah Acacia sambil bercerita tentang sebuah kemarahan
Sebuah kemarahan kecil yang sempat membuat kami tak sempat lagi bersama
Maaf, aku tak bisa mengingatnya...

Hingga akhirnya datang seorang berambut panjang, membelai rambutku
Dia meraih tanganku dan memaksaku untuk berlama-lama memandang teduh wajahnya
“Kau pernah mencintaiku” katanya
Aku pun hanya terdiam, biarpun dia mampu tuk menunjukkan sebuah hati yang terbelah
Dan menyatukannya dengan hatiku yang telah lama menjadi bandul kalung emasnya
“Begitukah hingga orang yang kau cintai hilang dalam ingatanmu?” tanyanya lagi

Ku lepaskan genggaman tangannya, berpaling, dan berlalu dari hadapannya
Dari hadapan orang yang mengaku ibuku
Temanku

Entah...
Aku begitu ingat bahwa ini adalah tempat lahirku, tempat ditanamkan ari-ariku
Tempatku riang bermain hujan, memanjat pohon rambutan, mahoni, acacia, jambu air...
Mengumpulkan getah damar, buah para, ulat sutera, dan tanaman-tanaman liar yang tumbuh di pinggir hutan
Tapi aku tak mampu mengenal orang-orang itu, aku seperti sendiri karena mereka hanya berbicara dengan bahasa bisu
Pun tempat yang sering kukunjungi t’lah menjadi sebuah istana berpagar perdu, ilalang, dan lumpur merah

Aku merasa asing, meski ini adalah rumahku
Meski dia mengaku sebagai ibuku, kekasihku, temanku...

Dan aku masih merasa asing,
Ketika sebuah sapaan menyadarkanku
“Lagi ngapain, Di?”
Seorang sahabat datang membawa secangkir kopi...



Dedicated to Yosi Arie Shandi, terima kasih atas dua telinga yang telah senang hati mendengarkan curhatan saya.

Juara Puisi Terbaik UNSA AWARD 2010

Comments

Popular posts from this blog

Tangan

Dedikasi

Suatu Ketika, Saat Puisi Saya Diapresiasi...