Tasbih di Malam Itu…

Membeku di sudut sunyi kecil hatimu

Berharap cahaya terang datang menyapa

Membelai raut angin yang kian resah

Berarak sebarkan kekalutan di penjuru asa

 

Matamu adalah bias senja

Bercahaya tanpa menyilaukan

Berwarna namun senada

Tak pernah lekang kupandangi indahnya

 

Tawamu adalah debur-debur riang ombak

Yang sebentar datang silih berganti

Menyapa dermaga hatiku yang kian membisu

Riak-riak kecil bermain di sela kakiku

 

Tanganmu adalah selendang bidadari

Yang mampu buat batu menjadi cair

Namun tetap lembut ketika memlukku

Mendekapku di haribaan pelukan yang damai

 

Tapi engkau semakin membisu

Tulang punggungmu terhampar pasrah di sudut waktu

Hanya jemarimu yang sibuk memutar tasbih

Dan bisik dzikir yang mengisi urat nadimu

 

Wahai ibu,

Meski dzikirku tak seindah tasbih alam semesta

Kan selalalu kutemani engkau mengeja malam

Dengan sisa-sia cahaya dari bekas air wudhu’mu

 

Duhai ibu,

Detak jantungku adalah detak jantungmu

Meski degupmu kian lirih

Meluruh seiring denyut malam yang kian pelan

 

Semua terjawab sudah

Ketika tasbihmu jatuh berderai menjadi air

Saat engkau mengucap salam

Lewat sebutir mutiara di sudut matamu

Dan seulas senyum yang indah

“Ibu menunggumu di syurga, Nak.”

air-mata_3a 

[Padang, 09 November 2010]

Kisah anak kecil yang menunggi ibunya di rumah sakit…

Comments

Popular posts from this blog

Tangan

Suatu Ketika, Saat Puisi Saya Diapresiasi...