Posts

Showing posts from 2011

L.O.L

Soimah Pancawati

#1
Aku ingin menyuling tawamu yang berlebihan
menjadi senyum-senyum bahagia
bagi mereka yang belum sempat tertawa
belum sempat tersenyum

Apa yang kau tertawakan, Mbak?
itukah kepedihan,
ataukah hanya desah-desah penyesalan
untuk sebuah senyum yang tiada kekal

Kita tidak sedang tertawa, bukan
atau menertawakan
mungkin maksudmu biar orang-orang ikut tertawa
atau ikut menertawakan

Aku ingin mengulang lagi
nyanyian ‘Tirtonadi’ yang kau bungkus apik dengan bossanova
itulah sebenar kerinduan, pada
terminal waktu yang pernah meninggalkanmu, sekali
ketika kau belum sempat berkemas
dan merias sedikit bangga yang keburu bingkas

#2
Aku ingin menyuling tarianmu yang berlebihan
menjadi riuh riang bocah di pinggir jalan
mereka yang belum sempat riang
ketika nafas harus mereka kekalkan

Kenapa raut wajahmu tak turut menari, Mbak?
apa yang kau pikirkan?
ataukah hanya rinai-rinai kerinduan
pada belaian di malam yang tenang

Kita tidak sedang menari, bukan
tidak pula sedang berlari
nafasmu tersengal, Mbak
istirahatlah…

Bapak Tua yang Mengetik Namanya Sendiri di Pusaranya

tik…
jari menjentik
tak…
kepala terhentak
tik…
pisau melentik
tak…
luka tercetak
tik…
titik
tak…
tetak
tik…
tak…
tik…
tak…



Meri San

Wajahmu t’lah bertambah manis saja
Setidaknya jauh berbeda saat pertama kali kita bertemu
Pun kacamata itu anggun terpasang di sana
Yang dulu sempat berebut tempat dengan komedo dan jerawat di hidungmu

Aku jadi malu pada diriku sendiri, dan kamu...
Atas semua kejadian yang pernah kita lewati
Dengan segala kerendahan hati, kumintakan maaf padamu

|Padang, 13 Maret 2010|

Dedikasi

Dua kali
: Alm. Wisnu & Almh. Dinar


Dua kali,
Kutemukan rembulan gerhana di hatiku
Sekuntum bunga yang sedang mekar, belajar menyapa hari
Semangat memungut embun pagi
Dilukis derai tawa dan impian tiada bertepi

Dua kali,
Unsa mempertemukan kami, pun Cendol mengenalkanku padanya
Pada dua insan,
Cerdas,
Seumpama elang yang belajar terbang
Pada dahan tertinggi puncak angan
Aku yang menyaksikan, dari balik liang kekaguman
Pada semburat jingga, biru, merah muda,
Di langit mereka…

Dua kali,
Percuma ku membuang air mata
Pada kesedihan yang nyata
Seolah mengingkari janji Tuhan tak maya

Pada dua kali,
Pasti akan ada yang ketiga kali…
Mungkin diri ini.
Semua pasti,
Dan aku….
Ingin memastikan ini hanya kedua kali
Aku bersedih hati.

Janji Tuhan itu pasti

Melihatmu…
Mendengarmu….
Kaulah yang terhebat.
(yang terlewatkan, SO7)


Pdg, 20/06/2011

Luka

aku adalah darah yang robek dari pembuluhnya

Sandal, sebuah puisi

Sandal

Biasa saja
Maksudnya biasa dipijak,
Dan untuk memijak

Tapi hargamu lebih mahal
Dari topi yang letaknya di kepala
Disanjung dan dipuja

Atau mungkin
Karena gunamu banyak sekali
Selain untuk melempar anjing
Juga bisa untuk menampar suami yang suka selingkuh sana sini

Sementara topi
Hanya untuk menutupi botak di kepala, atau colak yang mengintip mentari

Padang. 14 January 2011

Fiksi Foto Edisi 2 Leutika

Image
Liburan Doraemon
Retno Adjie

Suatu kali, Doraemon jengah menjadi robot dan terus-terusan mengawasi tingkah Nobita yang kekanak-kanakan. Akhirnya, dengan bantuan seorang profesor dari masa depan, dia menjelma menjadi seorang manusia. Nggak jauh-jauh dari bentuk aslinya, dia berubah menjadi manusia yang gendut, mukanya bulat, dan gembul.

Salah satu benda ajaib yang dia punya, yaitu kantong ajaib yang bisa mengeluarkan apa saja disulap menjadi mesin ATM mini yang dikombinasikan dengan pintu kemana saja untuk mengambil uang dari bank di seluruh dunia. Karena itu dia bisa bepergian kemana-mana tanpa takut kehabisan uang.

Dia memilih tempat-tempat tertentu untuk dikunjungi, salah satunya ke KL. Katanya sih, dia mau ketemu sama Upin & Ipin. Soalnya ketenaran mereka mengungguli ketenaran Doraemon yang telah eksis bertahun-tahun, sekalian minta tanda tangan. Alih-alih ketemu sama Upin & Ipin, Doraemon malah keenakan liburan.

Nobita gusar karena ditinggal begitu saja oleh Doraemon. Dia tak p…