Posts

Showing posts from 2012

Tangan

Cerpen Masaditiga
“Hei. Boleh aku pinjam tanganmu?” “Untuk apa?” “Aku ingin makan.” “Kalau ingin makan, pakai tanganmu sendiri. Tak usah memakai tangan orang lain” “Tidak mau. Pokoknya aku mau pinjam tanganmu, aku mau makan.” “Kubilang tidak, ya tidak!” “Ayolah. Aku ingin sekali makan. Aku pinjam tanganmu ya?” “Aku tak mau meminjamkan tanganku untukmu makan.” “Ayolah.” “Kau tuli ya?” “Tidak. Aku lapar.” “Pakai tanganmu sendiri!” “Kalau tanganmu aku beli, bagaimana?” “Kau gila!” “Tidak. Aku lapar.” “Ya sudah, makan saja sana!” “Tapi aku mau pinjam tanganmu. Aku mau makan.” “Sudah kubilang aku tak mau!” “Ayolah.”

Malam Pertama

Masuk
Masyuk 

###
*yang dalam sebuah grup kepenulisan -- puisi ini dibilang porno.

Ini Hanya tentang Hujan

iya, nikmatilah hujan itu
abaikan saja angin yang membawa awan yang hitam itu

Lada Hijau

Hai, lada hijau! Berikan pedas tanggung dan  kilapan senyap yang kaulumurkan di atas lidahku. Ini aku, batu! Biar kugilas dulu tubuhmu agar bisa kunikmati raungmu di ruang lambungku.
###

Tiga Jam di Radio Show

:Sheila On 7 Melihatmu… hingga mata lepuh menjelang subuh Kukibarkan bendera putih, untuk lagu-lagumu

Hujan Lebat

Saat hujan terasa kian membosankan Derunya yang tertahan di atap rumah Membalaskan dendam pada teritis yang telah Mengantarkan ia ke selokan Mengalir bersama serapah dan cacian Namun bumi tetap sabar Menjaganya untuk tidak terbenam “Aku sudah lebih dari cukup.”
Kutanya padamu, hujan! Apa makna dingin yang kautiupkan Dan kelam ayahmu, awan, yang selalu mengancam Tunggu! Tak mampu kudengar bisikmu Di sini terlalu riuh Gedombrang! Tong-tong tampan ditendang kaki nyalang Kau tumpah, berdesah… “Aku lantas tak jadi basuh, dan kau basah.”
Kuperhatikan pucuk dahan dan kelopak mawar Satu…dua…butir menghujan Ini adalah kisah tentang engkau yang tegar Berjajar sembunyi di balik pagar Agar tempias, berbias Hingga mampu ia kusebut mekar “Terima kasih atas senyum yang kau gambar.”

Suatu Ketika, Saat Puisi Saya Diapresiasi...

Ceritanya, karya saya ini berkesempatan untuk diapresiasi oleh khalayak di sebuah grup kepenulisan. Dalam acara tersebut, ada tiga karya yang ditampilkan. Dan puisi saya kebagian nomor urut tiga. Yah, sesuatu banget lah....

Komentar yang saya tampilkan di sini telah melalui proses editing karena tentu saja di setiap diskusi akan ada kalanya bercanda ria, saling ejek, ataupun saling lempar sepatu. Semoga saja editingnya pas dan seperti itulah adanya.

Berikut ini adalah puisi saya yang diapresiasi tersebut.

BELING

Aku tergores beling

Lidahmu Matamu Wajahmu
Aku terpasung hening Lidahku Mataku Wajahku
Aku tertawan saling Lidahmu lidahku Matamu mataku Wajahmu wajahku
Aku tergegas denting Ada merah Menetes Rekah
Hingga sering Lidah sumbing Mata juling Wajah asing
… jadi puing

###