Hujan Lebat


Saat hujan terasa kian membosankan
Derunya yang tertahan di atap rumah
Membalaskan dendam pada teritis yang telah
Mengantarkan ia ke selokan
Mengalir bersama serapah dan cacian
Namun bumi tetap sabar
Menjaganya untuk tidak terbenam
“Aku sudah lebih dari cukup.”

Kutanya padamu, hujan!
Apa makna dingin yang kautiupkan
Dan kelam ayahmu, awan, yang selalu mengancam
Tunggu!
Tak mampu kudengar bisikmu
Di sini terlalu riuh
Gedombrang! Tong-tong tampan ditendang kaki nyalang
Kau tumpah, berdesah…
“Aku lantas tak jadi basuh, dan kau basah.”

Kuperhatikan pucuk dahan dan kelopak mawar
Satu…dua…butir menghujan
Ini adalah kisah tentang engkau yang tegar
Berjajar sembunyi di balik pagar
Agar tempias, berbias
Hingga mampu ia kusebut mekar
“Terima kasih atas senyum yang kau gambar.”

Comments

Popular posts from this blog

Tangan

Suatu Ketika, Saat Puisi Saya Diapresiasi...