Suatu Ketika, Saat Puisi Saya Diapresiasi...

Ceritanya, karya saya ini berkesempatan untuk diapresiasi oleh khalayak di sebuah grup kepenulisan. Dalam acara tersebut, ada tiga karya yang ditampilkan. Dan puisi saya kebagian nomor urut tiga. Yah, sesuatu banget lah....

Komentar yang saya tampilkan di sini telah melalui proses editing karena tentu saja di setiap diskusi akan ada kalanya bercanda ria, saling ejek, ataupun saling lempar sepatu. Semoga saja editingnya pas dan seperti itulah adanya.

Berikut ini adalah puisi saya yang diapresiasi tersebut.

BELING

Aku tergores beling

Lidahmu
Matamu
Wajahmu

Aku terpasung hening
Lidahku
Mataku
Wajahku

Aku tertawan saling
Lidahmu lidahku
Matamu mataku
Wajahmu wajahku

Aku tergegas denting
Ada merah
Menetes
Rekah

Hingga sering
Lidah sumbing
Mata juling
Wajah asing

… jadi puing


###


Dan berikut ringkasan komentar dari teman-teman. Ada yang bener, ada yang galau, ada yang mengomentari komentar, ada yang rebutan sandal...yah, begitulah. Apapun yang anda dapatkan dari ulasan ini, insya Allah tidak ada mudharatnya.

Hadi Ku Suka yang ke 3.

Irsal Fadilah Pilih no 3.

NurLia MusLimah puisi BELING... rimanya dapat, sederhana tapi memukau.

Hadi Ku Setuju!
Puisi ke-3 memukau.

Faradina Izdhihary Suka puisi ke tiga. Padat. Diksinya kuat. Dan valuenya dapat. 3 jempol dech

Hadi Ku Puisi ke 3 diksinya sederhana tapi keren.

Vivie HardiKa Cungkring no 3 kereenn..

Nyi Penengah Dewanti puisi 3, mantap

Mariyani Schatzie Jatuh cinta pada puisi ketiga...puisi mbeling yang asyik.

Debby Gabriella Eveline Punya Adi bagus. Aku suka. Maknanya dapet, singkat, tapi tersampaikan dengan baik. >.<

Hadi Ku ‎@Debby, sipp! Lanjutkan!

Eka Martha Ayu V aku juga suka yang nomer 3, tapi yang lain gak kalah keren. bagi tips dooong >,<

Dyah Nyenk semua keren, tapi aku lebih suka dengan yang ke 3, jelas padat dan singkat ^ ^

Awalluddin Firdaus puisi 3 sederhana tapi sesuatu :)

Wiwin Faresya Al Ghifari suka puisi ke tiga *baru baca :D

Arina Murti Dewinta Aku ga ngerti puisi-puisinya.. -_-"Ini karena emang puisinya yang sulit dimengerti, atau akunya yang bodoh karena sering absen saat OCK puisi?? -___-a

Putri Eka Pertiwi Hirawling Puisi ketiga, singkat, tapi maknanya dapet.

AD Rusmianto mas Adi Saputra, anda layak sebagai koord, di grup sebelah. masih mempertahankan eksistensi dengan unsur bunyi. like it. tapi hati-hati ah, tidak semua orang suka dengan puisi yang seperti Sutardji. dan tidak semua orang suka dengan puisi yang kata-katanya adalah merdeka atau mencari bentuk dan makna sendiri. hehehehe. pisss mas......

Arniyati Shaleh Puisi ke 3.

Ayu Rainaya Puisinya keren-keren.

Adi Saputra terima kasih apresiasinya...terutama Bung AD. Iya, saya suka sama rima (bukan) melati :D

Wiwin Faresya Al Ghifari Puisi ke 3 karya Adi Saputra, menurut aku, terlalu banyak main kata, makna yang terkandung gak keluar banyak. jadi orang yang baca cuma akan fokus dan kagum dengan kata-kata yang di bolak-balik sama sekali gak ingin tau maknanya.hanya dengan penambahan sedikit saja kalimat hebat akan lebih sempurna *cari sendiri kalimatnya

Hana Zahara Kripik,
 puisi ketiga: gamblang.. :|

Aby Santika II Puisi ke tiga,
Terlihat hati-hati, dalam melukiskan pikiran untuk menyelaraskan bunyi,
Dan maaf aku kehilangan konsentrasi ketika membaca dibait akhir,
Namun itu mungkin, toh puisi tidak terpaut pada satu pandang saja,
Ketika saya A dan yang lain B,
Itu syah-syah saja,

Adi Saputra ‎Wiwin, buat saya itu cukup. terima kasih jika ingin menambahkan. :)

Adi Saputra ‎Aby, gitu ya? mmm

Irsal Fadilah Aku sih, lebih memilih puisi yang nomer 3, miliknya Kang Adi Saputra. Kenapa? Sebab, inilah yang dinamakan puisi. Puisi berbeda dengan tulisan-tulisan yang lain. Dari segi pemilihan sampai bentuk-bentuk tulisannya. Puisi Kang Adi Saputra ini, meskipun irit kata tetapi dalam makna. Jujur, aku belum menangkap sedikit pun sari dari bunga tangan Kang Adi, walaupun sedikit-sedikit ada, sih.

Nah, itulah keunggulan puisi kang Adi ini. Mesti berulangkali membac
anya untuk mengerti apa yang terdapat di dalamnya.

Wiwin Faresya Al Ghifari ‎Adi Saputra, hati hati membuat puisi dengan penyelarasan bunyi, bisa-bisa makna berantakan dan gak sesuai dengan bait-bait awal, karena kamu sibuk mencari kata-kata yang sama bunyinya dan gak fokus dengan maknanya, bagaimanapun puisi harus bermakna kan?? apa lagi bukan kamu sendiri yang baca. ini hanya saran untuk lain kali, pengalaman aku sendiri lho, tapi puisimu keseluruhan bagus kok :) maaf ini pendapatku sendiri :D

Adi Saputra santai saja, Irsal. terima kasih banyak ya atas ulasanmu. d^^

AD Rusmianto ‎Irsal Fadilah, Sebab, inilah yang dinamakan puisi. jadi menurut anda yang ke 1 dan 2 bukan puisi?

Adi Saputra Baiklah, Wiwin. untung saja itu bukan satu-satunya puisi yang pernah saya buat. jadi untuk pelajaran ke depannya. terima kasih sekali.

Adi Saputra bung AD. saya rasa Irsal sudah menyebutkan tadi, kesemuanya puisi. hanya saja dia mungkin bermaksud menjelaskan seperti kita mengidentifikasi kopi, yang ini arabika, yang ini kopi luwak, dan sebagainya.


Aby Santika II Adi,begitulah
seperti colonnes sans fin tardji,
tiang itu tiada tapi sekaligus ada
saat kita membayangkannya,
oleh pancingan kata di dalam
puisi. “tiang tanpa akhir tanpa
apa di atasnya/tiang tanpa
topang apa di atasku”. Di langit
tiada tiang, seperti di dalam
dunia ini, “tiada” tuhan. Tapi ada
“tiang”, seperti ada tuhan, oleh
bahasa di dalam kitab suci yang
mengatakan siapa dirinya, atau
persis seperti bahasa di dalam
puisi tardji itu: tiang yang
menjulur tanpa akhirnya. Tiang
imajinatif tapi atas undangan
tiang penegak rumah kita itu,
tiang itu menjadi riel dalam dunia
batin alias dalam pikiran kita
sendiri.
Maka biarlah antara pikiran dan tangan berjalan mengalir,
Antara ada dan tiada, yang penting adalah hasil.
Maka itulah yang paling penting.
49 menit yang lalu melalui seluler · Suka

AD Rusmianto saya tidak tanya mas adi, saya tanya kang irsal

Uya Carooe Puisi 3 Teratur ya? keren :)

Irsal Fadilah Kang AD. Saya mengatakan puisi kepada puisi no 3, karena puisi tersebut memang sudah matang dan bagus dalam berbagai segi.

Adi Saputra dan satu lagi, Wiwin. saya sudah memikirkan sebelum membuatnya, tinggal memoles dengan diksi. saya kira, ini hanya masalah sudut pandang saja.

AD Rusmianto jadi menurut kang irsal, puisi yang bagus itu adalah pusi yang tidak habis dibaca satu kali ngerti? gitu? puisi gelap-kah??

YouChan Coraz√≥n Ferido Keren-keren puisinya. I like it! :)
 Suka kata-katanya mbak Hana Zahara.."semua kreatifitas itu patut di hargai" :)

Jhenny Silvia Wulan iya, aku juga setuju jika puisi punya Adi Saputra diksinya lebih terarah,
bahasa literar yang digunakan membuat setiap kalimat menjadi lebih apik.

Wiwin Faresya Al Ghifari ‎Adi Saputra, sudut pandang juga bisa jadi penting, kecuali kalau kamu buat puisinya untuk di halaman diary mu saja.. :) yang ini bagus kok...

Mariyani Schatzie Bukankah puisi adalah karya seni yang mempunyai ruang sangat luas. Menurut maria setiap puisi memiliki makna bagi penulisnya. Yang kadang penulis dan pembaca akan menemukan perbedaan dalam mengartikan puisi itu.Jadi kalau memang ada perbedaan dalam memahami puisi itu suatu yang sangat wajar. *semoga maria nga salah*

AD Rusmianto ‎Mariyani Schatzie, makna verbal dan universal. sudah beberapa kali saya bahas dalam OCK


Aby Santika II Semua@
Puisi yang baik itu
relatif.Baik pada puisi
umumnya ,bahasanya
padat,namunkomunikati
fArtinya dengan bahasa
yang minim,namun
mampu mengungkapkan
makna yang dalam dari
hal yang ingin
disampaikan

Irsal Fadilah Kang AD. Kurang lebih begitu. Tapi, saya tak bermaksud menjatuhkan puisi yang tekniknya biasa saja.

AD Rusmianto semua @ (ngikutin aby)
kang 
Irsal Fadilah, puisi yang baik itu tidak harus selalu puisi gelap. dan belum tentu puisi gelap itu adalah bagus.

Adi Saputra ‎Aby, yang penting hasil?

NurLia MusLimah Wiwin. Rima dalam pemilihan diksi untuk puisi ke 3 cukup baik, ini sebuah penguatan penyampain makna dng diksi yg sdrhn. juga bisa dikategorikan puisi mbling yg blm mbeling ^_^

AD Rusmianto ‎Wiwin Faresya Al Ghifari, kritik? sah. silakan. tapi tidak untuk menghakimi sebuah karya sastra

NurLia MusLimah Puisi gelap? *mikir*

Uya Carooe puisi gelap mungkin puisi yang anonim? *nanya

Wiwin Faresya Al Ghifari AD Rusmianto, iya betuuuuullllll...... *aku menghakimi karya sastra siapa?? :)

AD Rusmianto ‎NurLia MusLimah, mas aby mungkin akan menjelaskan puisi gelap atau puisi prismatis itu apa

Tri Wiyatun sukaaaaa..!

Wiwin Faresya Al Ghifari ‎AD Rusmianto, tolong jelaskan bedanya kritik dan menghakimi, sekalian contohnya *help seriuss :)

AD Rusmianto kalo kritik, kita setidaknya mempunyai solusi atau bahan pertimbangn,kalo menghakimi, kita hanya menurut dan mencariu celah sebuah kesalahan tanpa bis amenutupinya

Uya Carooe puisi gelap mungkin terbentuk dari perpaduan kiasan hingga sulit ditafsirkan ya?

'Josua Martua Sitorus' semuanya bagusssssss ;)

Wiwin Faresya Al Ghifari ‎AD Rusmianto, dari semua comment di atas mana yang cenderung menghakimi? *please

Adi Saputra ndak ada

AD Rusmianto ndak ada

Adi@ ya hasil dulu, bagaimana cara kita mengenterpretensikan itu tergantung dari pemahaman dan batasan-batasan pola pikir kita,
Toh puisi tak lahir, kalau kata
dikurung seakan kelamin kita,
yang pengap di dalam celana
dalamnya sendiri, seperti yang
diceritakan dalam cerita cerita
mutakhir kita yang telah banyak
membuat orang salah
menafsirkannya. bahwa dia,
memang telah dimuatkan dalam
kitab itu sebagai kosa kata, dari
riwayat tubuh manusia.
Hehehe...

AD Rusmianto ‎Uya Carooe, puisi gelap itu bisa seperti puisi yang terbentuk dari dominasi majas atau kiasan sehingga menjadi gelap dan sukar ditafsirkan.

Adi Saputra kok saya mikirnya, yang penting itu prosesnya ya. beda gerbong kali ya. hehehe

AD Rusmianto untuk semuanya mbak wiwin

Aby Santika II Wiwin @
Ya mari mengkritik, asal jangan menggelitik hehehe

AD Rusmianto mas Adi Saputra, memang saya juga yang penting prosesnya. sebab dengan proses, dengan banyak hal yang sangat bermakna di dalamnya, daripada sebuah tujuan akhir

Wiwin Faresya Al Ghifari ‎AD Rusmianto, yang penting niatnya hihihihihi.. *yang ini becanda

Adi Saputra hahaha

AD Rusmianto mas adi, jangan kekencengan, kepsek lagi tidur

Adi Saputra semoga dia terbangun. tak baik tidur abis ashar. :D

Irsal Fadilah Kang AD. Itu kan menurut saya kang. Hehe.

Teh Wiwin. Monggo, teh. Kalau tak setuju dengan ulasan saya. Manusia tak harus semuanya sama, kan? Jadi wajar kalau, saya begini, Teh Wiwin begitu. Mas AD. Begini-begitu. Dan Mas Ady Begitu-begini. Hehe.

Adi@
Penafsiran dan penempatan berbeda,
Dalam proses dan hasil.
Disini yang dimaksud adalah umum dan khusus,
Ya proses adalah hal umum, dalam apapun itu menjadi satu kesatuan yang utuh, dan menjadi pelajaran dalam diri.
Dan hasil adalah khusus,
Ketika kita berbicara puisi, maka jika kita hanya terfokus hanya dalam proses maka tentu kecendrungan atau dorongan untuk menciptakan hasil yang baik, akan tersendat.
Namun itu tergantung individu masing2,
Toh, setiap pikiran tentu mempunyai batasan-batasan berbeda.

Adi Saputra ‎Aby, hmm...ya ya. masuk.

AD Rusmianto kang aby saya tidak paham dengan khusus dan umum,

Irsal Fadilah Kang AD. Kalau menurut saya puisi yang baik adalah puisi yang puisi yang dalam akan makna. Seperti pada puisinya Sapardi Djoko Damono. Selintas memang terlihat sederhana, namun pemaknaanya sungguh luar biasa.

Aby Santika II Adi@
Awas kepenuhan.. xixixi

AD@
Ya semacam perumpamaan antara luas dan terbatas.
Ibarat menempatkan suatu pikiran agar kira-kira tercapai tujuan maksud pembicaraannya,
Kumaha jadi ngaliwet ?

AD Rusmianto kang irsal, puisi sapardi itu banyak, yang mana contohnya?

Wiwin Faresya Al Ghifari ‎AD Rusmianto, maksudnya semuanya kali, sebagian besar gitu

Adi Saputra ‎Aby, udah penuh, tinggal tuang. :D

Irsal Fadilah Kang AD. Seperti yang "Aku, Pisau, dan Kata"

Maaf kalau salah judul, karena saya kurang ingat. Selain puisi itu, ada "Dalam Bus" Aku Ingin, Maut, Sonet X, Dilarang Membunuh Burung, dll.

hahahaha, eta kana liwet masih inget. sok dateng we heula. halah. besok pemutaran film uy kang Aby Santika II.

begini loh kang, menurut saya, yang namanya proses itu tidak umum, tapi lebih khusus, sebab perjalanan empirik dan pengalaman puitis seseorang tentu akan berbeda dan itu menjadi kekhusyukan dan kekhususan dalam berproses. apakah 
Wiwin Faresya Al Ghifaritahu proses yang dilakukan mas adi saputra? atau sebaliknya? itu akan menjadi verbalism dalam diri mereka masing-masing. dan hasil dari proses itu adalah dalam ruang yang umum lebih universal dilahirkan menjadi karya. setiap orang boleh memaknai apa saja, sebagai kaca mata apresiator,

maksudnya gitu kalo umum dan khusus dalam pandangan saya

*edisi sotoy

AD Rusmianto ‎Irsal Fadilah, yang saya tahu puisi sapardi itu adalah lembut tapi lugas, sama seperti puisi acep zamzam noor.

Maksudna umum khusus lain dina puisi,tapi eta ngan ukur bahasa perumpamaan saya,
duh bingung ngajelaskeunna akh.. Kudu ngobrol langsung,

Ya benar kalau ditinjau dari masalah itu, mungkin lebih mengarah ke latar belakang dan sejarah puisi yang dibuat.
Agar di
pahami dan mengerti puisi yang ditulis dihari itu,
Melukiskan peristiwa-peristiwa dan pikiran yang timbul dalam merangsang emosional pembaca.

Comments

Popular posts from this blog

Tangan