Tangan



Cerpen Masaditiga

“Hei. Boleh aku pinjam tanganmu?”
“Untuk apa?”
“Aku ingin makan.”
“Kalau ingin makan, pakai tanganmu sendiri. Tak usah memakai tangan orang lain”
“Tidak mau. Pokoknya aku mau pinjam tanganmu, aku mau makan.”
“Kubilang tidak, ya tidak!”
“Ayolah. Aku ingin sekali makan. Aku pinjam tanganmu ya?”
“Aku tak mau meminjamkan tanganku untukmu makan.”
“Ayolah.”
“Kau tuli ya?”
“Tidak. Aku lapar.”
“Pakai tanganmu sendiri!”
“Kalau tanganmu aku beli, bagaimana?”
“Kau gila!”
“Tidak. Aku lapar.”
“Ya sudah, makan saja sana!”
“Tapi aku mau pinjam tanganmu. Aku mau makan.”
“Sudah kubilang aku tak mau!”
“Ayolah.”
“Tak usah merayuku seperti itu.”
“Kan aku sudah baik-baik memintanya padamu.”
“Dan aku juga sudah baik-baik mengatakan aku tak mau meminjamkan tanganku padamu.”
“Jika aku memaksa, bagaimana?”
“Lakukan saja. Kau bisa apa?”
“Aku bisa membeli tanganmu.”
“Coba saja!”
“Sudah kulakukan minggu lalu, kau tak menyadarinya.”
“Ah, kau mencoba menipuku ya?”
“Tidak. Aku benar-benar telah membeli tanganmu minggu lalu, karena itu aku bisa makan.”
“Ya sudahlah, sesukamu. Yang pasti, aku tak mau memberikannya sekarang.”
“Kenapa kau berubah pikiran begitu? Minggu lalu kau begitu pasrah memberikannya padaku.”
“Aku tak mau membahasnya.”
“Jadi, kau sudah melupakannya, kan?”
“Iya.”
“Kalau begitu kau bisa memberikannya saat ini. Aku ingin makan.”
“Kenapa kau menginginkan tanganku?”
“Aku terbiasa memakai tangan orang lain ketika aku ingin makan. Sekarang, tak ada tangan lain yang bisa kupakai, tinggal tanganmu saja.”
“Pakai tanganmu sendiri! Tanganku tak kupinjamkan, apalagi kujual.”
“Cepatlah, berikan tanganmu sekarang.”
“Tidak. Kau tuli atau memang bebal?”
“Aku tidak tuli, apalagi bebal. Aku hanya lapar. Dan aku mau makan.”
“Ya sudah, makan sana.”
“Tanganmu aku pinjam?”
“Tidak!”
“Aku ingin makan.”
“Tidak!”
“Kau tidak ingin menolongku?”
“Tidak.”
“Menolong orang lain kan berpahala.”
“Benar.”
“Kau tak mau menolongku?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kenapa kau bertanya?”
“Aku hanya ingin tahu, kenapa kau tak mau meminjamkan tanganmu kepadaku.”
“Hhh… karena menolongmu sama saja meneruskan kebiasaanmu. Dan membiasakan orang sepertimu, malah jadi dosa.”
“Kenapa?”
“Kau punya tangan, tapi tak kaupakai.”
“Tapi tanganmu juga sedang tak kaupakai.”
“Ini tanganku, bukan tanganmu. Sedang kau punya tangan saja tak mau memakai, apa urusannya dengan tanganku?”
“Kau pernah lihat berita di TV kan?”
“Berita apa?”
“Di sana banyak sekali orang yang rela meminjamkan tangannnya untuk digunakan makan oleh orang lain. Pasti kau jarang sekali lihat berita kan?”
“Tak usah mengataiku seperti itu. Apa yang kaulihat di TV itu tak sama kasusnya dengan dirimu.”
“Aku tahu kau juga pernah melakukannya, dan kau terlihat rela sekali. Bahkan, tak hanya untuk makan saja, tanganmu juga pernah mereka gunakan untuk tidur, mandi, memanggul…,”
“Aku tak ingin mengingatnya.”
“Haha, benar, kan! Makanya, kupikir sama saja.”
“Apa?”
“Tentang tangan itu. Kau tentu tak bisa begitu saja melupakannya.”
“Lantas?”
“Kau bisa saja meminjamkan tanganmu kapan saja.”
“Apa hubungannya denganmu?”
“Berarti sama saja denganku, aku sedang butuh tanganmu.”
“Ya, kecuali kau memang tak bisa menggunakan tanganmu.”
“Kan memang seperti itu.”
“Keras kepala!”
“Berarti kau mengiyakan, bukan?”
“Tidak.”
“Ayolah, mengaku saja. dengan begitu aku bisa meminjam tanganmu.”
“Tidak mau. Titik!”
“Tapi kau buat tanda seru.”
“Terserah.”
“Aku pinjam tanganmu.”
“Tidak!”
“Aku ingin makan.”
“Terserah.”
“Aku pinjam tanganmu.”
“Tidak mau. Orang yang tak punya tangan saja bisa lebih baik darimu, tak butuh tangan orang lain untuk makan.”
“Masa?”
“Terserah! Kau cari saja tangan yang lain.”
“Sudah tak ada, tinggal tanganmu.”
“Ini tanganku sendiri, pakai tanganmu.”
“Aku ingin pinjam tanganmu. Aku lapar.”
“Pakai tanganmu sendiri!”
“Aku lapar.”
“Terserah.”
“Ayolah. Aku sudah sangat ingin makan.”
“Makan saja kasurmu!” []

(Pdg, 22 Maret 2012)
***
Penulis kelahiran Jambi, tanggal 2 Mei. Cerpennya pernah dimuat di Republika Ahad. Beberapa di antaranya masuk dalam kumcer Kolase 2 (Rumah Pena,) Mangga Golek Impian (Abatasa), dan novelet Lafaz Cinta di Ambang Gerhana (LeutikaPrio). 

Comments

Popular posts from this blog

Dedikasi